Tidak seharusnya aku tetap berdiri untuk bertahan, sedang nyatanya perih hati tidak lagi tertahan.
Aku senang menyendiri, bergumam pada sepi, bukan untuk menanti kedua kali, namun untuk mengoreksi dir, dan merenungkan semua perjalanan hati yang telah terjadi.
Aku mencoba menghilangkan goresan luka, berusaha mengobati segalanya, dan juga sangat berusaha untuk melupakan dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar