Rindu ini deras kala ada insan yang mulai cemas
Rindu ini syahdu kala dua insan berada pada titik semu
Rindu ini membelenggu kala diriku selalu menunggu
Rindu ini berat kala tak tersampaikan
Namun aku takut untuk menyampaikan
Aku takut rindunku tak tercapai
Pertemuan pertama yang tak terduga
Kala pandangku tajam ke matamu
Aku tak mengerti tentang sebuah rasa yang ada
Jam dinding berhenti berdetak
Tergantikan oleh detak jantungku yang tak menentu
Senyum syahdumu melekat dalam lelapku
Bayang semumu pun tak terhapus waktu
Diam-diam kau menjadi pangeran kalbuku
Aku
ingin, selalu ingin merasakan kedekatan kita yang dulu. Disaat kita tak perlu mengatur
waktu untuk bertemu, tak perlu mecari-cari waktu untuk sekedar membuang rindu,
tak perlu meluangkan waktu untuk sekedar berbincang seru. Dulu, ya walaupun tak
begitu terlalu lama kita pernah menghabiskan setiap detik dengan begitu asik,
kita saling bersenda gurau bercerita tentang apasaja yang terlihat oleh mata,
tentang sesuatu yang selalu terasa, aku dan kamu selalu bercerita tentang
hal-hal kecil yang mungkin menurut sebagian orang tidak terlalu penting, namun
bagiku membagi cerita kepadamu begitu perlu. Kini, semuanya terasa jauh, kau
telah menemukan yang baru, mungkin lebih seru dari bersamaku, aku baru tau
cemburu itu tidak hanya terasa oleh seorang wanita terhadap pasangannya ataupun
seorang pria kepada wanitanya. Kali ini aku menemukan cemburu pada sesosok
perempuan yang ku sebut teman lebih dari teman bagiku dia sudah menjadi bagian
dari keluargaku, tempat berbagi bahagia dan pilu. Detik ini aku percaya setiap
yang datang tak selamanya menetap, setiap hadir akan selalu pergi dan
tergantikan oleh orang baru yang datang. Tapi aku tak pernah menjauh, aku akan
selalu rindu, aku akan selalu menunggu kedekatan kita yang dulu. Sahabat selamat menemukan bahagiamu wahai
bahagiaku.
Kau fikir hati ini baik? Setelah kau berhasil mencabik? Rasanya tak bisa diutarakan atau mungkin tak akan lagi terfikirkan. Namun entah mengapa aku tak mengerti dengan perasaan ini, aku benci pada hati ini, seolah tak mampu berkompromi. Logika berkata buang jauh-jauh perasaan yang ada dihati, kau tak akan sanggup menggapainya. Namun hati ini seolah teguh pada pendiriannya untuk tetap menanti kehadirannya. Menyebalkan bukan? Harapku terlalu naik sehingga kenyataanku terusik, kau harapan besarku namun realita tak begitu. Rembulan datang menyadarkan namun aku masih berandai.
Tidak seharusnya aku tetap berdiri untuk bertahan, sedang nyatanya perih hati tidak lagi tertahan.
Aku senang menyendiri, bergumam pada sepi, bukan untuk menanti kedua kali, namun untuk mengoreksi dir, dan merenungkan semua perjalanan hati yang telah terjadi.
Aku mencoba menghilangkan goresan luka, berusaha mengobati segalanya, dan juga sangat berusaha untuk melupakan dia.
Untuk pertama kalinya saya menulis, menuangkan segala yang terasa dalam bentuk tulisan tidak lagi menggunakan lisan. Sebab ada kalanya saya merasa menceritakan sebuah perasaan kepada teman bukanlah salah satu hal yang baik, kadang mereka hanya ingin tau bukan merasa peduli. Saya selalu belajar banyak dari setiap masalah yang saya hadapi, masalah apapun itu. Salah satunya mengenai permasalahan dalam pertemanan. Berteman dengan banyak orang membuat saya belajar banyak hal, belajar mengerti bahwa tak semua teman sama dan sejalan dengan diri kita. Belajar untuk memilih teman bukan dari segi harta maupun tahta melainkan dari sikapnya. Saya belajar bahwa tidak semua teman baik namun yang belum baik tidak pernah saya jauhi namun saya belajar mengayomi, sama sama mengingatkan.Saya selalu berpesan untuk jangan pernah pergi ketika saya salah, tetaplah memaafkan dan mengingatkan.Dari semua pelajaran ini saya tahu bahwa semua hal yang terjadi dihidup saya sudah diatur dan semuanya berhasil memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. And I hope together will be fine